Jumat, 12 Desember 2014

TUGAS AKHIR DASAR-DASAR PERIKLANAN

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK
NAMA KELOMPOK:
-      ANDRE LUKITA                      (915130156)
-      RENDRA GUNAWAN             (915130182)
KELAS:        B
DOSEN:        Santo Tjhin. S. Sn, MM, M.Ds, MCHt

I.                   PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, gedung dan benda-benda bersejarah peninggalan nenek moyang yang sangat berharga sebagai sarana wisata berkonsep pendidikan. Sehingga sebagai warga Indonesia harus mampu menjaga dan melestarikan kekayaan yang ada di Indonesia. Sebagai salah satu contoh tempat wisata di Jakarta yaitu Museum Seni Rupa dan Keramik
Jakarta adalah kota besar yang mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah, serta memiliki banyak tempat-tempat bersejarah salah satunya Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum ini banyak sekali peninggalan-peninggalan jaman dahulu yang sangat bermanfaat..
Namun seperti yang kita ketahui, banyak Museum-museum diIndonesia yang masih kurang dalam perawatannya, sehingga menurunnya sejumlah masyarakat yang datang ke museum. Salah satunya adalah Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di kawasan Kota Tua. Museum ini sangat sedikit sekali pengunjungnya, dikarenakan tempatnya yang bisa dikatakan kurang strategis, bahkan tidak banyak orang yang tahu bahwa ada Museum Seni Rupa dan Keramik di sekitar kawasan Kota Tua tersebut.

II.                LATAR BELAKANG
·         SEJARAH BANGUNAN
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870. Sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie), kemudian pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia gedung ini dijadikan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967 digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta.
Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun pada tahun 1870. Sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie), kemudian pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia gedung ini dijadikan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967 digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta.
Pada tahun 1968 hingga 1975 gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di gedung ini pula terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

·         KOLEKSI
Sesuai dengan namanya museum ini memiliki dua jenis koleksi berupa seni rupa dan keramik. Koleksi seni rupa terdiri dari Lukisan, Sketsa, Patung dan Totem kayu. Di antara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan yang amat penting bagi sejarah perkembangan seni rupa Indonesia, seperti lukisan Bupati Cianjur karya Raden Saleh, pengganti revolusi karya Hendra gunawan, pejuang karya Agus Djaya, maka Lahirnya Angkatan '66 karya S.Sudjojono, perjuangan karya Sudjono Kerton, Potret Diri dan Topeng Karya Affandi, Kustiyah Karya Sudarso, Wanita Karya R.Basuki Abdullah, dan Klenteng Karya Abas Alibasyah. Museum memiliki koleksi patung bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang mangis dan simbolis karya I Wayan Tjokot dan Keluarga besarnya.
Totem dan Patung Kayu Karya seniman modern A.I.G Sidharta dan Oesman Effendi Sementara koleksi keramik yang terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal baru berasl dari berbagi sentr industri keramik Indonesia seperti Kasongan, Plered, Singkawang dll. Sementara keramik tua yang bernilai sejarah berupa keramik Majapahit dari abad 14 yang memperlihatkan ciri, keistimewaan serta keragaman bentuk dan fungsi. Museum juga memiliki keramik asing berasal dari Eropa yaitu Belanda serta Asia sepert Cina, Jepang, Vietnam, dan Thailand sebagian berasl dari Cina, terutama dari Disnati Ming dan Ching.

·         FASILITAS
Perpustakaan Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki Sejumlah buku-buku mengenai seni rupa dan keramik, sejarah kota tua Batavia, dan buku-buku lainya yang berhubungan dengan sejarah Nusantara. Buku-buku ini dapat di baca atau pun di pinjam dengan seijin petugas museum.
Bagian dari gedung berupa aula dapat di manfaatkan untuk acara-acara tertentu, seperti: pameran kontemporer, seminar, lomba, maupun acara pernikahaan; penggunaan gedung oleh umum dapat menghubungi bagian tata usaha museum.
Souvenir Shop, menyediakan berbagai macam souvenier, seperti t-shirt, mug, gantungan kunci, dan produk dari keramik lainnya, juga tersedia minuman ringan.
Di bagian dalam kanan-kiri merupakan taman yang dapat digunakan untuk bersantai ataupun kegiatan outdoor lainya.
Museum juga dilengkapi dengan fasilitas umum berupa mushola serta toilet wanita dan pria.
Area parkir yang luas dan aman, yang dijaga oleh petugas keamanan museum.

·         LOKASI
Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Kawasan Kotatua Jakarta, dapat di tempuh dengan menggunakan kereta Commuter Line turun di stasiun Kota atau TransJakarta turun di halte Kota.

·         JAM OPERASIONAL
Selasa s.d. Minggu : 09.00 s.d. 15.00 WIB
Hari senin dan hari besar tutup

·         TIKET PENGUNJUNG
Perorangan
·        Anak/Pelajar                : Rp. 2.000,-
·        Mahasiswa                   : Rp. 3.000,-
·        Umum Dewasa            : Rp. 5.000,-
Rombongan
·        Anak/Pelajar                : Rp. 1.500,-
·        Mahasiswa                   : Rp. 2.250,-
·        Umum Dewasa            : Rp. 3.750,-


III.             METODE  PENELITIAN
Metodologi penelitian yang kami gunakan adalah dengan menggunakan:
Metode Observasi
Mendatangi langsung museum seni rupa dan keramik secara langsung dan memperoleh data dari karyawan dan informasi yang ditampilkan di museum seni rupa dan keramik.
Metode Interview (kualitatif)
Teknik wawancara yang kami lakukan kepada salah satu pengunjung di museum seni rupa dan keramik ini. Berikut hasil wawancara singkat kami bersama salah satu pengunjung yang bernama Kartika:

A: Kami
K: Kartika
A:       Menurut kak Kartika apa saja daya Tarik dari museum seni rupa dan keramik di kota tua ini?
K:       Hal yang menarik dari museum keramik ini adalah isinya, yaitu berbagai macam barang-barang seni yang tentunya sangatlah menarik, dimana kita bisa melihat berbagai macam barang-barang seni antic peninggalan Indonesia dan beberapa dari mancannegara dari jaman dulu hingga sekarang.
A:        Menurut kak Kartika bagaimana mengenai fasilitas yang ada di museum ini?
K:        Menurut saya, fasilitas yang ada di museum ini sebenarnya sudah sangat memadai, seperti adanya computer untuk mengakses informasi mengenai barang-barang museum, tetapi kurang dipergunakan secara maksimal, sehingga perlu dimaksimalkan lagi.
A:       Menurut kak Kartika, apakah harga masuk di museum ini sudah sesuai dengan apa yang diberikan museum?
K:       Menurut saya harga tiket masuk museum sudah sangat murah dan sudah sesuai untuk tiket masuk museum khususnya di Jakarta.
A:     Menurut kak Kartika apa saja yang perlu dikembangkan untuk museum seni rupa dan keramik ini?
K:     Menurut saya, untuk museum ini seharusnya dimaksimalkan fasilitas yang sudah ada, seperti computer untuk mengakses informasi lebih dikembangkan dan untuk fasilitas AC lebih dikembankan karena museum disini agak panas, jadi mungkin ini yang membuat orang kurang tertarik untuk mengunjungi museum ini.

IV.             HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian secara observasi, kami menemukan disana kurangnya penggunaan fasilitas yang disediakan secara maksimal, contohnya, adanya komputer, namun tidak diaktifkan, seharusnya computer tersebut dinyalakan untuk dijadikan komputer yang dapat digunakan pengunjung untuk mengakses informasi relic yang ada di museum.
Juga untuk fasilitas AC dapat dimaksimalkan dengan memasangnya di setiap ruangan, sehingga dapat membuat para pengunjung merasa nyaman dan betah untuk tinggal lebih lama di dalam museum.
Untuk saran, di dalam museum seharusnya dilengkapi dengan berbagai macam entertainment seperti adanya music klasik, agar pengunjung yang dating tidak merasa terlalu sepi dan bosan, dan juga seharusnya ada perlengkapan seperti mp4 player yang berisi mengenai rekaman suara yang berisikan informasi mengenai ruangan dan barang-barang yang terdapat  di museum tersebut, sehingga pengunjung dapat lebih antusias dengan mendengarkan informasi barang-barang yang ditampilkan di museum seni rupa dan keramik ini.

V.                PEMBAHASAN IMPLIKASI TEORI
  •       Teori Semiotika

Dalam semiotik, sebuah tanda dapat dibahas melalui tiga tingkatan makna yaitu:
a)         Makna denotatif, yang mengaji makna dari objek yang digunakan dalam sebuah tanda.
b)        Makna konotatif, yang membahas makna yang ingin disampaikan melalui suatu penandaan.
c)                Aspek sosial, yang didasarkan pada teori Peirce bahwa tanda tidak terpisahkan dari kehidupan sosial, dengan mengkaji tanda sudut panjang subjek yang menggunakan tanda, yaitu masyarakat.
Bedasarkan teori semiotika, dalam bangunan museum seni rupa dan desain menampilkan metode perancangan arsitektur Interior. Semiotika yang pertama kali terlihat adalah pilar-pilar raksasa menopang kanopi berbentuk prisma memberkesan kokoh dan kuat sesuai fungsi awalnya sebagai gedung peradilan. Pelataran yang luas semakin memperkuat kesan megah bangunan ini.
  •       Teori Penataan Ruang

Pembagian ruang pameran juga dikelompokkan berdasarkan barang yang dipamerkan. Tiap barang dikelompokkan menurut periodenya. Lantai 2 diperuntukkan sebagai penjelasan tambahan dan lebih mendalam mengenai jenis keramik yang ada.

  • Elemen Pembentukan Ruang
Lantai pada museum ini masih mempertahankan material aslinya sehingga menunjukkan kesan tua dari sibangunan dan juga karya yang dipamerkan. Sehingga secara langsung museum ini juga menampilkan kesan historinya melalui lantai yang masih digunakan sejak dulu.
Kotak pajangan yang digunakan juga memiliki nilai emiotika, yang berarti barang yang ada di dalamnya hanya untuk dilihat saja, tidak boleh disentuh untuk menghindari terjadinya kerusakan.
Lampu sorot yang digunakan juga untuk menarik perhatian para pengunjung mengenai barang-barang yang di tampilkan dalam pameran.
  • Teori Ekonomi: 
Teori Permintaan Bedasarkan teori permintaan, terdapat hokum permintaan yang menyatakan bahwa, apabila harga suatu barang naik, maka yang diminta cenderung turun dan sebaliknya apabila harga suatu barang turun. Maka jumlah barang yang diminta akan cenderung naik “P   è Q   ” atau “P   èQ   ” (Sudarso, 2009;25).


Sehingga dengan penetapan harga tiket masuk museum yang murah, hanya Rp. 5000,- diharapkan dapat meningkatkan minat para masyarakat untuk datang dan mengunjungi museum seni rupa dan keramik ini.
  •         Teori Lokasi
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006).
Bedasrakan lokasi, lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik berada di tempat yang sangat strategis, karena berada di daerah pusat kota dan tempatnya sangat dekat dengan Stasiun Kota yang merupakan sarana transportasi umum yang sangat besar di Jakarta, sehingga memudahkan akses para pendatang untuk dating ke Museum Seni Rupa dan Keramik ini.

VI.             LAMPIRAN











VII.          DAFTAR PUSTAKA
Brosur Museum Seni Rupa dan Keramik
Eco, Umberto. 1976. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press
Tarigan, Robinson. 2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah, Bumi Aksara. Jakarta
Sudarso. 2009. Pengantar Ekonomi Mikro. Jakarta: Citra Mandiri
Siagian, Yohanes.Desain adalah suatu sistem yang berlaku untuk segala jenis perancangan dimana titik beratnya adalah melihat segala sesuatu persoalan tidak secara terpisah atau tersendiri. http://www.academia.edu/

Senin, 09 Juni 2014

Hubungan Interpersonal

RENDRA GUNAWAN (915130182), PSIKOLOGI KOMUNIKASI (KELAS D), FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS TARUMANAGARA (087774532187)

Dra. Lidyawati Evelina, M.M.


         Hubungan Interpersonal adalah proses interaksi antara individu dengan individu lain dengan cara berkomunikasi. Komunikasi Interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting” (Anita Taylor, 1977: 187).

        Metakomunikasi : menunjukkan aspek hubungan dari pesan komunikasi. Metakomunikasi dapat menjadi “sebuah pesan berupa pentunjuk verbal dan nonverbal dengan tujuan bagaimana pesan mereka harus dimengerti, bagaimana seseorang menginginkan pesannya untuk dijawab, bagaimana seseorang mencoba untukmendefinisikan hubungan, dll ( Newman ).

Makin baik hubungan interpersonal, maka:
—- Makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya,
—- Makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog)
—- Makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan

    Semakin baik hubungan interpersonal, semakin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, semakin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi lainnya. Sehingga semakin efektif komunikasi yang berlangsung.

Teori - teori hubungan interpersonal :
  • Model pertukaran sosial
       Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari 
    • Ganjaran : sebuah manfaat yang diperoleh dari suatu hubungan yang baik. Contoh : Seorang lelaki mau mendapatkan bahan-bahan ujian.
    • Biaya : akibat yang dinilai negatif dari sebuah hubungan interpersonal. Contoh : Berteman dengan sekumpulan orang yang tingkat ekonominya tinggi. Yang tingkat ekonominya rendah harus mengeluarkan usaha yang lebih untuk menyamai mereka.
    • Hasil : selisih antara ganjaran dan biaya. Contoh : Lili berteman dengan Andi, Lili merasa mendapatkan untung karena berteman dengan Andi, karena Andi sangat royal terhadapnya.
    • Tingkat Perbandingan : menunjukkan standart yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan interpersonal. Contoh : ketika mempunyai cowok yang baru. Pasti akan mulai dibandingkan dengan cowok yang lama. Semakin tinggi tingkat perbandingannya ( yang baru lebih baik ), semakin erat hubungan interpersonalnya.
  • Model Peranan 
    • Ekpektasi peranan mengacu pada kewajiban yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok. Contoh seorang anak diharapkan menjadi anak yang rajin belajar dan patuh pada orang tua.
    • Tuntuan peranan, misalnya desakan sosial yang memaksa individu untuk memerankan. Contoh : ibu harus memasak bagi keluarganya.
    • Ketrampilan peran, kemampuan kognitif dan tindakan individu.
    • Konflik peran, misal peran yang kontradiktif. Seorang ibu harus berperan sebagai istri, ibu rumah tangga, dan pekerja sekaligus.

  • Model permainan
    3 kepribadian manusia : 
    • Orang tua adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku orang tua ( merawat, dll)
    • Orang dewasa dalah bagian yang mengolah informasi secara rasioanl sesuai dengan situasi
    • Anak adalah unsur yang diambil dari perasaan dan pengalaman anak-anak ( manja, kesenangan, dll)

  • Model Interaksional
       Model ini menggabungkan model pertukarana peranan dan permainan. Untuk menganalisa hubungan interpersonalnya, kita harus melihata pada karakteristik individu yang terlibat, difat kelompok, dan sifat lingkungan. 

Tahapan Hubungan Interpersonal 
  1. Pembentukkan Hubungan
    • Adalah tahap perkenalan
    • Fokus pada penyampaian informasi
    • misal: sikap, hobi, dll
  2. Peneguhan Hubungan
    4 faktor dalam memelihara keseimbangan, yaitu: keakraban, kontrol (kesepakatan siapa yang mengontrol dan dikontrol), respon yang tepat (konfirmasi dan diskonfimasi) dan nada emosional yang tepat
  3. Pemutusan Hubungan Interpersonal
    Bila terjadi konflik. Ada 5 sumber konflik, yaitu:
    1. Kompetisi, misal, menunjukkan kelebihan dan merendahkan orang lain.
    2. Dominasi, salah satu pihak berusaha mengendalikan hubungan, pihak lain merasa hak-hak dilanggar.
    3. Kegagalan, masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan tidak tercapai.
    4. provokasi salah satu pihak terus menerus melakukan sesuatu yang menyinggung pihak lain.
    5. perbedaan nilai kedua belah pihak tidak sepakat akan nilai-nilai yang dianut.

Faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi : 

  • Percaya (trust)
    — Berdasarkan pengalaman, kejujuran, menerima, empati
  • Sikap Suportif
    — Mengurangi sifat defensif (melindungi diri)
  • Sikap Terbuka
    — Menilai pesan secara objektif




Sumber :



Dra. Lidyawati Evelina, M.M. ( Dosen FIKom UNTAR )

Rahayu, Arfyana . Academia.edu
DjuhdieFrom kompasiana

Sistem Komunikasi Kelompok

RENDRA GUNAWAN (915130182), PSIKOLOGI KOMUNIKASI (KELAS D), FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS TARUMANAGARA (087774532187)

Dra. Lidyawati Evelina, M.M.

I.      Pendahuluan
          A.    Latar Belakang
Sebagai mahluk social, manusia perlu bekerjasama dengan manusia lain untuk mengerjakan sesuatu, sehingga untuk memungkinkan hal tersebut manusia membentuk kelompok untuk secara bersama – sama dengan memiliki tujuan yang sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sistem Komunikasi Kelompok merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari. Masih banyaknya kelompok-kelompok yang belum dapat menjalankan komunikasi dalam kelompoknya dengan baik dan belum adanya kesadaran anggota dalam suatu kelompok mengenai posisinya dalam kelompok.  
           B.    Rumusan masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas:
-        Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Kelompok?
-        Faktor apa saja yang mempengaruhi keefektifan kelompok?
-        Apa saja bentuk Komunikasi Kelompok?

            C.    Tujuan
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui apa sebenarnya komunikasi kelompok agar dalam kelompok setiap anggota individu bisa membangun komunikasi yang baik sehingga kelompok tersebut dapat produktif.

II.             Teori Sistem Komunikasi Kelompok
Proses terjadinya komunikasi kelompok dimana dua orang atau lebih berinteraksi, berkomunikasi, dan mempengaruhi satu sama lain secara langsung dengan anggota – anggota kelompoknya.

     Tidak setiap himpunan orang disebut kelompok, himpunan ini disebut dengan agregat. Agar agregat menjadi kelompok diperlukan kesadaran pada anggota – anggotanya akan ikatan yang sama yang mempersatukan mereka. Kelompok mempunyai tujuan dan organisasi (struktur) dan melibatkan interaksi di antara anggota – anggotanya. Kelompok juga dampak mempengaruhi bagaimana seseorang berbicara, berpenampilan, bekerja bahkan penampilan seseorang agar individu tersebut diterima oleh kelompoknya.

Dalam faktor – faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok terdspat factor situasional dan factor personal. Factor situasional yang menunjukan karakteristik kelompok tentang hubungsn ukuran kelompok dengan partisipasinya menunjuksn bahwa makin besar ukuran kelompok, anggota yang paling aktif akan makin terpisah dari anggota-anggota kelompok lain, yang makin menyerupai ssatu sama lain dalam keluaran partisipasinya. Menurut Hare (1952; 262-267) dan Slater (1958: 129-139) hubungan kelompok mengenai kepuasaan adalah semakin besar ukuran kelompok, makin berkurang kepuasaan anggotanya. Sehingga menurut Slater, maksimal jumlah anggota dalam satu kelmpok adalah 5 orang. Karena anngota yang berisi 5 orang dianggap akan menjadi kacau dan mengakibatkan kegiatanya dianggap menghambur-hamburkan waktu oleh anggota-anggota kelompok lainya.

Terdapat lima bentuk jaringan komunikasi:
1 - Bentuk X (Pemimpin dapat berhubungan dengan semua anggita eklompok, tetapi anggita kelompok hanya bias berhubungan dengan pemimpin saja)
2   - Bentuk Rantai (Anggota kelompok berkomunikasi secara berantai “A=>B=>C=>D=>E”)
3  - Bentuk Y (Tiga orang dapat saling berkomunikasi secara berantai, tetapi ada 2 orang yang hanya bisa berkomunikasi dengan anggota di sampingnya)
4  - Bentuk Lingkaran (Setiap orang hanya bias berkomunikasi dengan anggota disebelahnya, dan tidak ada pemimpin)
5  - Bentuk Bintang (Setiap anggota daapt berkomunikasi dengan anggota kelompok lain)
6  - Bentuk Comcon (Semua saluran komunikasi terbuka)

        Kohesi Kelompok ialah sebuah kekuatan yang mampu mendorong anggota kelompok untuk tetap saling bersama dan mencegah anggota kelompok meninggalkan kelompoknya. Dan diperlukanya kepemimpinan untuk memengaruhi anggota kelompok lainnya agar tercapainya tujuan bersama. Terdapat tiga gaya kepemimpinan yaitu otoriter (keputusan dan kebijakan ditentukan pemimpin), demokratis (oemimpin dapat membantu dan mendorong anggota kelompok untuk menentukan pilihan), dan Laissez Faire (memberikan kebebasan anggota untuk mengambil keputusan dan peran pemimpin sangat minim disini.

Factor personal adalah factor yang mempengaruhi karakteristik anggota kelompok. Kebutuhan interpersonal menurut William C. Schultz merumuskan teori FIRO “Fundamental Intrapersonal Relations Orientation”. Bedasarkan teori ini, seseorang memasuki kelompok dan menjadi anggota karena tiga alasan, pertama Inklusi: ingin masuk untuk menjadi anggota suatu kelompok, biasanya dalam tingkat ini terjadi perasaan tidak mau telalu terlibat dengan kegiatan bersama anggota yang belum kita kenal (Undersocial) yang berkekurangan, kita mau ikut melakukan kegiatan (Social) yang ideal, dan kita terlalu aktif dengam mendominasi setiap isi percakapan dan meceritakan diri kita (oversocial) yang berlebihan. Kedua Kontrol: pembagian kerja yang diperlukan agar kelompok menjadi produktif dalam tugasnya, individu yang mempunyai kecenderungan kuat dan mendominasi disebut (Otokrat), individu yang ikt dengan kelompok dan bersedia ditempatkan dalam segala posisi (Demokrat), dan individu yang menyerahkan semua tanggung jawab dalam perilaku interpersonal (Abdikrat). Ketiga Afeksi yang merupakan kebutuhan kasih sayang adalah dimensi emosional dari kelompok, individu yang menjaga jarak dengan anggota lain (Underpersonal), Individu yang merasa harus dekat dengan anggota kelompok lainya untuk melakukan pekerjaan (Overpersonal), Individu yang memelihara jarak yang tepat agar dapat mengerjakan pekerjaannya secara produktif (Personal). Adanya Tindakan Komunikasi, dengan tiap anggota menerima dan memberi informasi baik secara verbal atau non-verbal, dan terdapat Peranan, dimana tiap anggota kelompok memiliki peranan yang dapat membantu penyelesaian tugas kelompok serta emosi anggota kelompok. Terdiri dari tiga Peranan, Peranan Tugas Kelompok,  Peranan Dari Pemeliharaan Kelompok dan Peranan Individual.

Bentuk komunikasi kelompok sendiri dibagi menjadi dua: deskriptif dan preskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Kategori preskriptif mengklasifikasikan kelompok menurut langkah – langkah rasional yang harus dilewati oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuan.

III.          Kasus
Dalam sebuah kelompok belajar terdiri dari lima orang yaitu Andre, Betty, Samatha, Elena dan Peter. Kelompok organisasi mereka berbentuk bintang sehingga setiap anggota kelompok lebih berkomunikasi dengan satu sama lain. Dan kelompok ini didorong perasaan yang sama untuk saling membantu dalam mengerjakan tugas dan belajar, karena mereka masing-masing memiliki kelemahan dan kelenihan dalam bidang pelajaran sekolah sehingga saling bantu membantu. Dan dengan pengkuruan parameter FIRO, Peter adalah undersosial, abdikrat, dan overpersonal; Betty oversosial, otokrat dan overpersonal; Elena social, otokrat dan personal; Samatha undersosial, democrat dan underpersonal; Andre oversosial, abdikrat dan underpersonal. Sehingga kemungkinan Peter dan Samatha menarik diri dan cuek, Andre dan Betty akan melepaskan kegelisahannya dengan obrolan terus menerus, dan Samatha dapat mengalami bentrok dengan Elena atau Betty dalam pengaturan tugas.

IV.          Penutup
Kesimpulan
Dalam Teori Sistem Komunikasi Kelompok ini, komunikasi kelompok dapat digunakan untuk menyelesaikan sebuah tugas, mencapai suatu tujuan yang sama dengan lebih mudah, sehingga sistem komunikasi kelompok ini sangatlah baik dan akan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai manusia yang mahluk social dengan bekerjasama dan tidak mungkin hidup sendiri. Juga dapat membantu peningkatan kepribadian dan penilaian kepribadian mengenai diri sendiri dalam orientasi kerja secara kelompok, dimana posisi kita dalam kelompok sesuai dengan sifat kita. Jadi menuru saya, saya setuju dengan teori ini, dikarenakan teori ini mudah dibuktikan dan diamplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber :
Rakhmat, Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Roasdakarya.
http://www.anneahira.com/contoh-komunikasi-kelompok.htm